Oh Kelentengku, Oh Dewaku…: Story 1

June 15, 2009

20080815_Dasa02_Ucap_Mantra2Hari itu, di sebuah kelenteng yang asri dan bersih saya datang ingin bersembahyang. Saya memang sering bersembahyang di kelenteng itu di karenakan kelenteng itu selalu menjaga kebersihannya, tidak lagi terlihat kusam dan kotor. Dinding, tiang-tiang bangunan di cat merah menyala dan cerah. Tidak ketinggalan ornamen yang ada seperti patung naga terlihat rapi, bersih dengan cat yang mengkilat sehingga terkesan sangat gagah. Walaupun patung Dewa/Dewi masih terlihat debu-debu yang melekat menutupi wajah-wajah gagah dan cantiknya namun masih dapat dimaklumi karena sesekali masih dibersihkan dengan kurun waktu yang tidak terlalu lama. Rasanya mimpiku tentang mimpi kelenteng wajah baru sudah hampir mendekati kenyataan. Read the rest of this entry »


Bo Mi Khai Wu : Story 3

June 14, 2009

Story :
Kalau kita sering bersembahyang di kelenteng, pasti kita sering melihat umat Tao yang bila ingin sembahyang di depan Dewa/Dewi sebelum ‘pai’ pasti dengan tangannya mengetuk-ngetuk hiolo atau mengusap-ngusapnya, begitu seterusnya di altar lainnya, bagian dari ritualkah?

Logic :

Banyak orang melakukan hal diatas dengan anggapan untuk ‘membangunkan’ atau ‘mengucapkan permisi’ kepada Dewa/Dewi. Hal tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan karena fungsi dari hio itu sendiri sebenarnya sudah seperti kita ‘mengetuk pintu’ atau mengucapkan permisi pada Dewa/Dewi.

Dewa/Dewi sudah begitu agung, tidak terbatas oleh ruang dan waktu tidak seperti manusia, maka hal seperti itu sebenarnya tidak perlu dilakukan.

Kalau misalnya Dewa/Dewi masih perlu dibangunkan, dimanakah kemahaan Sang Dewa? Hal-hal seperti ini perlu dikaji kembali, jika tidak ingin kelenteng kita ditinggalkan dan ditertawakan oleh anak cucu kita nanti.


Bo Mi Khai Wu : Story 2

June 10, 2009

LiLin-RaKsASaStory :

Menjelang Imlek suatu waktu, teman papa saya yang sangat kaya menyumbang beberapa lilin yang besarnya sepaha manusia. Namun setelah dia lihat di kelenteng tersebut ada yang menyumbang lilin sebesar paha gajah dia tidak mau kalah. Dia menyumbang lagi lilin yang kali ini lebih besar dari tiang bangunan kelenteng itu. Intinya, dia mau lilin yang dia sumbang adalah lilin yang paling besar yang ada di kelenteng itu, dan namanya terukir besar di lilin yang dia sumbang. Begitu pula dengan hio yang dia pakai, besarnya seperti lengan orang dewasa. Read the rest of this entry »


Bo Mi Khai Wu : Story 1

June 10, 2009

INDONESIA-CHINA-LUNARStory :

Suatu saat teman saya seorang wanita pernah bertanya, Kenapa pada pada waktu dia sedang haid, orang tuanya melarang dia untuk sembahyang sewaktu mereka sedang berkunjung ke sebuah kelenteng? Bagi teman saya itu, pelarangan itu tidak beralasan. Apakah sehina itukah dia di mata Dewa, padahal dia sedang menjalani kodratnya sebagai wanita? Read the rest of this entry »